peta situs kontak kami
Jumat, 12 Maret 2010   English | Sunda
jeruk garut
Kepada Bapak Bupati/Wakil, Saya seorang pendatang…
KUMAHA IYE JALAN KABUPATEN NU AYA…
awas bahaya gunung guntur akibat penggalian…
Ingin rasanya saya berpindah domisili ke…
SMS
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Penghargaan
Sindikasi
rss2 berita
Produksi Ikan di Garut Turun Akibat Obat Kimia

Selain maraknya serangan hama tikus akibat pengubahfungsian lahan sawah dan tak seragamnya pola tanam padi, sejumlah petani ikan di Desa Simpangsari dan Pakuwon Kec. Cisurupan, Kab. Garut juga mengeluhkan menurunnya produksi pembesaran maupun pembenihan ikan dalam beberapa tahun terakhir. Terutama sejak banyak lahan persawahan diubahfungsikan menjadi lahan pertanian palawija atau sayuran.

Para petani ikan menduga, menurunnya produksi ikan itu karena adanya penurunan kualitas air akibat tercemar pupuk dan obat-obatan kimia yang dipergunakan petani yang sudah berlebihan. Ditambah pencemaran belerang dari kawah Gunung Papandayan yang terbawa aliran sungai sejak gunung tersebut meletus pada 2002.

Menurut mantan Kepala Desa Simpangsari, H. Uju, Kamis (11/5), sejak lama daerah Simpangsari dan sekitarnya terkenal sebagai sentra perikanan, terutama mina padi. Artinya, sambil menunggu bibit tanaman padi tumbuh dewasa, petani bisa sekaligus menanam ikan pada lahan sawahnya. Dengan pola tersebut, petani bisa memperoleh keuntungan panen padi dan ikan.

Beberapa tahun lamanya, petani di sana bisa menikmati ikan-ikan yang dibudidayakan dengan pola mina padi itu berukuran besar-besar dan sehat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, benih ikan mas yang tadinya berukuran sebesar jari, bisa tumbuh sebesar telapak tangan orang dewasa.

Tingkat kematian

Tetapi, tutur Uju, sejak banyak penduduk menggadaikan atau menyewakan lahan sawah miliknya untuk dijadikan lahan perkebunan palawija atau sayuran, pertumbuhan ikan mina padi tersebut sangat lamban. Tingkat kematian ikan juga cukup tinggi karena mudah terkena penyakit. Belum lagi hama tikus yang malah kian marak bila sawah digunakan untuk mina padi.

“Pembenihan ikan yang biasanya menghasilkan 10 kg dengan ukuran sedang dari satu ekor induk ikan mas, sekarang paling-paling hanya 4 kg. Seringkali hanya 1 kg,” keluh Uju.

Uju menduga, kondisi seperti itu terjadi terkait kualitas air sudah menurun karena tercemar pupuk dan obat-obatan kimia dari lahan palawija dan sayuran. Hal ini diperparah dengan pencemaran zat beracun, seperti belerang dari kawah Gunung Papandayan yang terbawa aliran Sungai Ciparugpug. Selain Desa Simpangsari, desa lainnya yang terlintasi aliran Sungai Ciparugpug antara lain Desa Pakuwon, Pangauban, dan Cipaganti.

Mati mendadak

Hal senada dikemukakan Asep Jamjam (26), warga Kp. Rancabolang Simpangsari disertai Ketua BPD Pakuwon Komarudin. Menurut Asep, pencemaran air terlihat, terutama di saat hujan turun. Saat itu, banyak ikan mati mendadak atau menjadi borok-borok tak lama kemudian.

Petugas Puskesmas Simpangsari, H. Ade Suryana mengakui kemungkinan penurunan kualitas air di Desa Simpangsari maupun Pakuwon dan sekitarnya akibat pencemaran pupuk dan obat-obatan kimia sudah parah. 

Navigasi
Angkutan Umum
ATM/Bank/Asuransi
Instansi Pemerintah
Jasa Wisata
Kantor Pelayanan
Keagamaan
Layanan Telematika
Layanan Umum
Organisasi Masyarakat
Perbelanjaan
Produsen Produk Khas
Sarana Kesehatan
Sarana Pendidikan
Web/Blog
Maret 2010
MiSeSeRaKaJuSa
 123456
789101113
14151617181920
21222324252627
28293031   
Stats Situs
Tautan Pilihan
spacer