garut header
Rabu, 07 Desember 2016   English | Sunda
rss2
Assalam wrwb, Maaf sebelumnya, dimana saya…
assalamualaikum, upami bade magang di dinas…
aslkm.bade naroskeun upami prosedur ngadaamel surat…
Situs yang bagus, sangat bermanfaat. saran…
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
rss2 berita
Harus Ada Program Kesehatan Preventif

Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan menantang Dinas Kesehatan (Dinkes) membuat program-program kesehatan yang bersifat preventif dan membangun demi kemajuan dunia kesehatan, khususnya di Jabar. Jika Dinkes di Jabar bisa membuat suatu program terobosan yang dianggap perlu dan tepat sasaran, ia berjanji akan berjuang keras membantu peningkatan anggaran dari RAPBD untuk bidang kesehatan.

Hal itu dikemukakan Gubernur pada Musyawarah Kabupaten (Muskab) dan Seminar Sehari Keperawatan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kab. Garut di Stikes Dharma Husada, Minggu (19/ 10).

“Saya tantang Dinas Kesehatan untuk membuat program preventif dan bersifat membangun. Insya Allah, saya akan bantu peningkatan anggaran hingga 300 persen dari yang ada sekarang,” ucapnya.

Menurut Gubernur, anggaran kesehatan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Jabar saat ini masih terlalu kecil, berkisar 1,4% atau sebesar 5% dari APBD yang ada.

Padahal, kesehatan sangat mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Jabar yang saat ini menjadi salah satu program utama pemerintah yang akan berdampak langsung pada pertumbuhan indeks prestasi manusia (IPM) Jabar.

Gubernur mengatakan, baginya, indikator kesehatan bukan sehebat apa rumah sakit melayani yang sakit, namun seberapa banyak penurunan orang memanfaatkan rumah sakit. Semakin turun orang yang datang ke rumah sakit karena sehat, maka kian baik indikator kesehatan masyarakat.

Karenanya, Gubernur menegaskan bahwa langkah promotif dan preventif merupakan tindakan yang harus bisa didahulukan. Hal itu karena sebesar 75% kesehatan masyarakat ditentukan perilaku hidup bersih, sedangkan pelayanan kesehatan hanya 20% dan genetik (keturunan) 5%.

Gubernur menyatakan, setiap tahun di Jabar terdapat 1,4 juta siswa putus sekolah di jenjang SLTP, termasuk madrasah tsanawiah dan Paket B. Di tingkat nasional, Jabar baru mencapai 89% di bawah target nasional (95%) atau berada di peringkat 18 di antara 33 provinsi yang ada.  (B.117)