garut header
Selasa, 24 Oktober 2017   English | Sunda
rss2
Assalam wrwb, Maaf sebelumnya, dimana saya…
assalamualaikum, upami bade magang di dinas…
aslkm.bade naroskeun upami prosedur ngadaamel surat…
Situs yang bagus, sangat bermanfaat. saran…
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
rss2 berita
Kerusakan Hutan Dirasakan Hilir DAS Cimanuk

Wakil Bupati (Wabub) Memo Hermawan mengingatkan, dampak kerusakan 84.917 ha hutan termasuk kondisi lahan kritis di Kabupaten Garut bisa dirasakan kawasan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, seperti kabupaten Indramayu, Cirebon serta Pantai Utara (Pantura) Provinsi Jawa Barat.

Karena potensi hutan di daerahnya terluas untuk menunjang penentuan sebesar 45 persen kawasan lindung Jawa Barat, namun kendala rehabilitasi lahan kritis di kabupaten Garut yakni sekitar 85 persen lahan milik pihak Perkebunan dan Perhutani sehingga kepemilikan tanah masyarakat sangat kecil, ujar Wabub ketika membuka Sosialisasi Wanatani di Perkenjeng, Senin (25/4).

Disebutkan, minimnya kepemilikan lahan masyarakat juga mengakibatkan mereka terpaksa mendesak areal hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti berladang bahkan terpaksa merambah hutan, maka melalui kegiatan sosialisasi wanatani di desa Jatiwangi kecamatan pakenjeng itu dapat menanggulangi 40 persen kerusakan lahan dari 19.675,58 ha luas wilayahnya.

Sementara itu, Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Pengembangan Peran Masyarakat, Ir Arie Djunardi D. Djoekardi MA mengatakan, kerusakan hutan dan lahan di Indonesia mencapai 56,98 juta ha dari luas hutan 101.843.486 ha, dengan luas hutan yang masih tersisa di pulau Jawa kurang dari 2,9 juta ha atau mencapai 22,01 persen dari luas pulau tersebut.

Deputi mengharapkan, kegiatan sosialisasi untuk daerah rawan longsor mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran, hak dan tanggungjawabnya terhadap lingkungan hidup sekaligus memiliki pengetahuan mengenai pelestarian lingkungan nhidup serta perlindungan sumber daya alam, sedangkan hal penting lainnya dapat dilahirkan kader-kader lingkungan berdedikasi tinggi.

Menjawab pertanyaan garut.go.id, Djunardi D. Djoekardi menyebutkan, solusi penanggulangan masalah lingkungan yang dihadapi Garut antara lain melalui kegiatan seperti ini, secara bertahap dan berkesinambungan.

” Sangat memprihatinkan “


Dewan Pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), DR Ir Mubiar Purwasasmita mengatakan, perlunya membangun strategi berkesinambungan untuk menanggulangi kian parahnya kondisi lahan kritis di Jawa Barat, karena kini kita tidak berada pada kondisi normal melainkan dalam kondisi lingkungan yang sangat memprihatinkan.

Diingatkan, keselamatan hidup jauh lebih penting yang patut disikapi dengan menghentikan kegiatan yang bisa lebih memperparah lingkungan hidup, dengan mengedepankan unsur paling mendasar berupa sikap kearifan, seperti halnya ikut menjaga dan melestarikan potensi sumber mata air di Jawa Barat yang mencapai 81 miliar m3/tahun.

Namun sumber daya alam itu dimusim kemarau panjang bisa menyusut menjadi 8 miliar m3/tahun, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diperlukan sebanyak 17 miliar m3/tahun, karenanya masyarakat Jawa Barat patut menjaga persediaan air bersih sebanyak 20 miliar m3/tahun, karena potensi air di Jabar terbesar di Indonesia bahkan di dunia, ujar staf pengajar ITB itu. 

Ketika didesak pertanyaan garut.go.id, Mubiar Purwasasmita menandaskan, berbagai aktivitas yang bisa merusak lingkungan kawasan Dago dan Punclut Bandung apapun dalih dan argumentasinya mutlak harus segera dihentikan, demikian pula kondisi lahan kritis di kabupaten Garut setahap demi setahap patut dibenahi.

Sosialisasi wana tani untuk daerah rawan longsor diiikuti 52 orang peserta dari 12 desa di kecamatan Pakenjeng yang berlangsung selama dua hari, dengan sasaran terwujudnya kesadaran tinggi terhadap kelestarian lingkungan bagi masyarakat desa pemilik hutan rakyat, seusai pembukaan dilakukan penanaman pohon secara massal pada tebing gersang berkemiringan diatas 75 derajat.