

Dialog Kedaerahan Refleksi satu tahun kepemimpinan independen Kabupaten Garut dengan tema “Menyorot Kepemimpinan Independen di Daerah” batal dilaksanakan.
“Perhelatan yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Permata Intan Bandung di Gedung Korpri, Kabupaten Garut, hari ini terpaksa dibatalkan. Padahal, proses persiapannya berlangsung sejak dua bulan lalu, namun tidak satu pun nara sumber yang bisa hadir,” ungkap Ketua Perhimpunan Mahasiswa asal Garut itu, Agus Hendratno, Minggu.
Sebelumnya, mereka mengundang nara sumber yang terdiri dari Bupati, Ketua DPRD, Sekda, juga para Kepala Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) termasuk para camat, namun yang hadir hanya Asisten Bidang Administrasi Keuangan, Mlenik Maumeriadi mewakili Bupati serta Kabag Pemerintahan, Tedi Iskandar mewakili Plt Sekda.
Mlenik Maumeriadi sempat membuka dialog tersebut, dan menyatakan dirinya kurang berkompeten atau tidak memiliki kapasitas untuk membahas materi dialog itu, sehingga menyarankan agar penyelenggaraannya ditangguhkan.
Sementara itu, nara sumber lainnya termasuk Ketua DPRD Garut, Ahmad Bajuri secara mendadak Sabtu (6/2) malam membatalkan kehadirannya.
“Namun, Ketua DPRD tidak mendelegasikan kepada anggota lain,” ujar Agus Hendratno dan Ketua Panitia Penyelenggara, Asep Muludin, yang juga dari Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung.
Pihak penyelenggara yang meliputi pula kalangan mahasiswa dari UNINUS, UNIGA dan STKIP juga perguruan tinggi lainnya serta sekitar 50 undangan yang telah hadir, menyatakan sangat kecewa dibatalkannya dialog tersebut.
Mereka menilai, tema dialog tersebut sama sekali tidak akan mengancam kelestarian kepemimpinan independen di daerah itu, melainkan hanya untuk menanyakan sekaligus mengevaluasi kinerja Bupati Aceng HM Fikri dan Wakil Bupati R Diky Chandra selama ini, termasuk mengklarifikasikan banyaknya opini berbagai kalangan yang menyebutkan kinerja mereka belum membuahkan hasil maksimal.
Sejumlah anggota panitia penyelenggara juga menilai, kalangan eksekutif dan legislatif Garut itu menjadi paranoid dan takut menghadapi tema dialog yang digagas kalangan mahasiswa Bandung asal Kabupaten Garut itu.
“Perhimpunan Mahasiswa Permata Intan Bandung, akan mengemas kembali perhelatan serupa pada waktu yang dinilai paling tepat, sehingga diharapkan nantinya bisa disikapi elegan oleh kalangan eksekutif dan legislatif Kabupaten Garut, Jawa Barat,” ungkap Agus.