
Dinas Peternakan dan Kelautan Kabupaten Garut menemukan daging mengandung formalin disejumlah pasar tradisional saat menggelar inspeksi mendadak (sidak), kemarin.
Saat sidak di Pasar Ciawitali, tim Dinas Peternakan dan Kelautan Kabupaten Garut menemukan dan mengidentifikasi beberapa daging yang tidak layak konsumsi. Kebanyakan dari daging tersebut ditemukan memiliki kadungan formalin dan bahan pengawet kimia lainnya, terutama pada bagian jeroan. “Daging yang memiliki formalin dan bahan pengawet lainnya, dapat kita lihat dari ciri-cirinya, yaitu warna dagingnya pucat dan tidak dikerubuti lalat. Selain itu, saat pemeriksaan kita diperkuat dengan menggunakan alat pengukur P H,” kata Kasi Kesmavet Dinas Peternakan dan Kelautan Kabupaten Garut,Elit Maryonah, kemarin.
Harga yang ditawarkan untuk daging tidak layak konsumsi ini tergolong lebih murah yaitu sebesar Rp9.000. Sedangkan untuk daging segar, biasanya pedagang mematok harga sebesar Rp13.000. “Daging yang tidak layak konsumsi adalah berupa daging impor. Harga daging ini juga biasanya lebih murah. Untuk sementara, kita belum bisa memberikan sanksi. Sampai saat ini, kita baru bisa mengimbau saja pada para pedagang untuk tidak menjual daging seperti itu,”tandas Elit. Salah seorang pedagang daging, Adrian, 35, mengaku tergiur dengan menjual daging yang termasuk ke dalam kategori tak layak konsumsi tersebut.
Diungkapkan Neneng, biasanya pedagang bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar bila menjual daging tersebut. “Saya tidak tahu daging ini ada pengawetnya atau tidak.Yang jelas, saya tertarik menjualnya karena harganya lebih murah beberapa ribu. Kalau begitu, setidaknya saya akan dapat keuntungan dari menjual daging ini. Kalau mengenai sanksi yang akan diberikan, saya pasrah saja, karena saya tidak tahu menahu soal kandungan dalam daging ini. Setahu saya, daging ini daging import yang saya beli dari penadah dan dagingnya halal,” tukas Adrian.
Sementara itu, Inah Sutinah salah seorang pembel warga Limbangan mengatakan, sebagai orang awam alias warga biasa, dia tidak tahu kalau semala ini daging yang dia beli mengandung formalin. “Saya baru tahu dari hasil sidak, selama ini saya mengkonsumsi daging berformalin dong,” keluhnya. (fani ferdiansyah)