
Warga Kampung Cilincing dan Kurnia Desa /Kecamatan Kersamanah mengeluh soal kualitas beras miskin. Kondisinya berbau dan berkutu.
“Saya menutup hidung saat membuka karung raskin karena tidak kuat baunya,” ujar Yayah (36) warga Kurnia Desa Kersamanah, kemarin.
Sehingga, lanjut dia, ia bersama warga yang lainnya sepakat untuk mengembalikan desa yang dibelinya ke Bulog melalui desa.
Sekretaris Desa/Kecamatan Kersamanah Asep Nasrudin, mengatakan, jumlah raskin yang didrop Bolog Senin lalu (30/8) sebanyak 13 ton untuk 1.000 rumah tangga miskin. Namun sepertiganya diketahui bau apek dan banyak kutu.
“Warga rumah tangga miskin (RTM) di Kampung Cilincing dan Kurnia merasa kecewa. Karena beras yang dibelinya bau apek dan berkutu,” ujarnya.
Mandapat keluhan dan pengaduan dari warganya, kata Asep Nasrudin, Kepala Desa Kersamanah E Rudi Haedarusman SPdI melayangkan surat ke Bulog Garut dan Bupati Garut. Dari 1/3 raskin yang kualitasnya jelek, yang dikembalikan oleh pemerintah desa hanya 305 karung karena sebagian raskin yang jelek sudah dikonsumsi untuk makanan ternak. “Sedangkan 2/3 raskin kualitasnya dianggap layak konsumsi sehingga tidak dikembalikan ke Bolog,” katanya.
Setelah surat dilayangkan, tutur Asep Nasrudin, pihak Bulog Sub Divre Ciamis Gudang Garut, Rabu siang (1/9) menarik lagi 305 karung atau 4.575 kg raskin dari Aula Desa Kersamanah untuk diganti raskin yang layak konsumsi. Namun Hingga Rabu malam (1/9) raskin pengganti belum tiba di Desa Kersamanah karena masih dalam perjalanan.
“Sebetulnya, Pemerintah Desa Kersamanah sudah dua kali mengembalikan raskin ke Bulog karena raskin yang dikirim tak layak konsumsi. Pengembalian yang pertama sebanyak 13 ton terjadi Mei 2010 dan sudah diganti. Pengembalian kedua, sekarang,” beber dia.
Ia menambahkan, ketika pihaknya menerima laporan soal kualitas beras, Camat Kersamanah Achmad Sopari, mengecek langsung ke aula desa. Ternyata, camat memafhuminya bila warga menolak beras raskin tersebut.