placeholder for flash movie
Sabtu, 01 Nopember 2014   English | Sunda
Assalamualaikum.. saya Norwind dari Yogyakarta. Mohon…
salam admin, maaf mau tanya kalau…
Assalamualaikum Wr Wb, Kenapa Saya hingga…
Assalamu'alaikum. maaf kepada BKD garut, berdasarkan…
SMS
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain
Jadwal Imsakiyah
Penghargaan
Sindikasi
rss2 berita
Provinsi Jawa Barat Peringati Hari Jadi Gubernur Tekankan Perlunya Kebersamaan

KEMARIN untuk pertama kalinya Provinsi Jawa Barat merayakan hari ulang tahunnya di usia yang ke-66. Seperti tertuang dalam Perda Jabar No. 26/2010 yang menetapkan hari jadi Provinsi Jabar jatuh pada 19 Agustus 1945.

Pertimbangan yang mendasar dari penetapan ini karena tanggal itu merupakan saat pertama kali Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melaksanakan sidang dan menghasilkan salah satu keputusan penting. Yaitu pembentukan 8 provinsi di Indonesia, yang terdiri atas Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.

Menurut Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam Sidang Paripurna Istimewa di Gedung DPRD, Jumat (19/8), penetapan hari jadi Provinsi Jabar dilaksanakan melalui pembahasan yang panjang, sejak tahun 2003 dengan melibatkan para ahli dan berbagai elemen masyarakat.

“Jawa Barat masa kini merupakan kesinambungan dari Jawa Barat masa lalu, dan Jabar masa depan merupakan kesinambungan dari Jabar masa kini. Sebab itu, mari kita maknai hari jadi Jabar ini sebagai sumber inspirasi dan dasar perjuangan bagi pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat di Jabar,” ungkap Heryawan.

Ia mengatakan, peringatan HUT Provinsi Jabar yang ke-66 ini merupakan momentum yang sangat strategis bagi pemerintah dan seluruh masyarakat untuk menyatukan tekad dan langkah, agar seirama dalam upaya mewujudkan masyarakat yang mandiri, dinamis, dan sejahtera.

Upaya itu didasarkan pada filosofi masyarakat Jawa Barat, yaitu silih asah, silih asih, silih asuh dan nu jauh urang deukeutkeun, geus deukeut urang layeutkeun, geus layeut urang paheutkeun, geus paheut urang silih wangikeun. Filosofi ini mengandung arti mendalam tentang pentingnya kebersamaan dalam berbagai hal dan dengan kebersamaan, Jabar akan melangkah menuju puncak kejayaan.

Menurutnya sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, 70% industri manufaktur ada di Jabar, juga energi alternatif (pembangkit panas bumi), potensi wisata yang lengkap, KUKM terbesar jumlahnya serta sentra produksi berbagai komoditas yang tersebar dan menjadi andalan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan ekonomi Jabar setiap tahun mengalami peningkatan, khususnya periode 2008-2010, sejalan dengan meningkatnya nilai PDRB. Untuk tahun 2010 pertumbuhan investasi mencapai 17,38%, dengan nilai investasi mencapai Rp 136,63 triliun. Dalam perluasan lapangan kerja selama tiga tahun telah tercapai 1.063.302 kesempatan kerja,” kata Heryawan

Ia menambahkan, hasil perhitungan BPS di Jabar angka pengangguran mengalami penurunan sebesar 0,63%. Program penurunan penggangguran dan perluasan lapangan kerja akan terus dilaksanakan dan ditingkatkan, sebagai upaya untuk mengurangi angka kemiskinan di Jabar.

3 bidang mendasar

Saat ini, kata Heryawan, fokus pembangunan di Jabar masih diarahkan pada tiga bidang mendasar, yaitu pendidikan, kesehatan, dan peningkatan daya beli.

Di bidang pendidikan, berbagai program dan kegiatan diluncurkan sejak tahun 2008, dan telah mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan angka partisipasi kasar (APK) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Yaitu APK SD/MI 117,18%, dan APK SMP/MTs 93,97% serta APK SMA/MA mencapai 57,50%.

Untuk meningkatkan APK khususnya, pada jenjang SMA/MA dirancang program pembangunan ruang kelas baru (RKB) yang diharapkan setiap tahun akan dibangun 3.000 RKB. Untuk menunjang masyarakat tidak mampu diberikan beasiswa, penyediaan SMP terbuka dan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan.

Di bidang kesehatan, untuk memberikan pelayanan yang makin prima kepada masyarakat, dilaksanakan dengan pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana kesehatan, penyediaan tenaga kesehatan terutama di daerah yang sulit dijangkau, pemberian dana jaminan kesehatan daerah bagi masyarakat tidak mampu, serta kepada ibu-ibu hamil diberikan pelayanan gratis untuk melahirkan.

“Dalam upaya peningkatan daya beli masyarakat, dilakukan melalui pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat berbasis lokal. Upaya ini dilakukan dengan pembentukan dan penguatan sentra-sentra produksi untuk berbagai komoditi, penumbuhan dan pengembangan kukm melalui penguatan permodalan, peningkatan manajemen, pemanfaatan teknologi dan perluasan pangsa pasar,” jelas Heryawan.

Dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan ke depan, sekaligus harapan yang ingin dicapai, saat ini sedang dan akan dilaksanakan berbagai program pembangunan berskala besar. Seperti pembangunan bandara internasional di Kertajati Majalengka, pembangunan pelabuhan laut internasional di Sukabumi dan Pelabuhan Cilamaya di Karawang, pembangunan Tol Road Cisumdawu, Seroja, Bandung Intra Urban Tol Road, Tol Cikampek-Cirebon, pembangunan waduk Jatigede, aktivasi jalan KA, dll.

Promosi lemah

Sejarawan dari Universitas Padjadjaran Bandung Prof. Dr. Nina Herlina menilai, promosi HUT Provinsi Jabar masih sangat lemah. Ini dibuktikan, sebagian warga masyarakat belum mengetahui hari jadi Provinsi Jawa Barat yang jatuh setiap tanggal 19 Agustus.

Nina menyebutkan, sosialisasi hari jadi Jabar bisa dilakukan di berbagai media massa. Namun sosialisasi hari Provinsi Jabar di media massa sangat kecil terlihat. Sosialisasi tentang hari jadi Provinsi Jabar tidak sampai ke masyarakat luas. “Padahal, surat keputusan (SK) Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang menetapkan tanggal 19 Agustus sebagai hari jadi Jabar, sudah ditandatangani sejak 31 Desember 2010,” ujarnya.

Pakaian adat

Sebagaimana peringatan hari jadi provinsi di Indonesia, peringatan hari jadi Provinsi Jawa Barat para pejabat di lingkungan Pemprov Jabar maupun anggota DPRD Jabar wajib mengenakan pakaian adat Sunda.

Tentunya ada rasa bangga ketika menyaksikan para inohong, mulai dari Gubernur Jabar, Wakil Gubernur Jabar, Ketua DPRD dan para Wakil DPRD Jabar serta para pejabat lainnya mengenakan pakaian adat. Sekalipun ada nada-nada sumbang dari luar, jika pengadaan pakaian adat ini menggunakan uang negara.

Lepas dari hal itu, penggunaan pakaian adat oleh para inohong Pemprov Jabar dan DPRD Jabar ini sedikitnya memberikan contoh kepada masyarakat, pentingnya pakaian adat pada peringatan hari-hari penting.

Euforia pakaian adat ini memang terlihat jelas, namun sayang tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang pakaian adat tersebut. Pasalnya banyak di antara para pejabat maupun anggota DPRD Jabar yang mengenakan bendo terbalik.

Saat hal itu dikonfirmasi kepada Wakil Ketua DPRD Jabar Uu Rukmana, menurutnya tidak masalah jika ada pejabat atau anggota dewan yang salah mengenakan pakaian adat Sunda. “Ini ‘kan baru pertama kali sidang paripurna mengenakan pakaian adat Sunda. Tentunya ke depan tidak akan terulang,” ujarnya.

Navigasi
Angkutan Umum
ATM/Bank/Asuransi
Biro Jasa & Layanan Umum
Instansi Pemerintah
Jasa Wisata
Kantor Pelayanan
Keagamaan
Layanan Telematika
Organisasi Masyarakat
Perbelanjaan
Produsen Produk Khas
Sarana Kesehatan
Sarana Pendidikan
Web/Blog
November 2014
SuMoTuWeThFrSa
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      
Stats Situs
Tautan Pilihan
spacer