Kriteria Tertinggal Perlu Diperjelas

Jumlah Desa Maju di Kabupaten Garut Hanya 181

GARUT menduduki peringkat kedua desa tertinggal? Itulah fakta yang disampaikan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Syaifullah Yusuf baru-baru ini di Jakarta. Garut menurut data yang disampaikan Syaifullah berada di bawah Kab. Sukabumi, yang menempati urutan pertama.

Syaifullah menyebutkan, dari 419 desa yang ada di Garut, yang termasuk tertinggal 238. Sedangkan yang tergolong maju 181 desa. Karena itulah, Garut dinyatakan sebagai wilayah tertinggal.

Benarkah? Menurut Bupati Garut H. Agus Supriadi, walaupun sampai saat ini belum ada instrumen pengukur atau kriteria mengenai daerah tertinggal, dirinya menerima sebutan tersebut dengan suka cita. “Ya, nggak apa-apa, sebab Garut sudah kadung disebut demikian,” katanya.

Namun demikian, ia mengharapkan agar ke depan kriteria daerah tertinggal itu diperjelas dan dipertegas kembali. Demikian pula dengan kriteria tertinggal atau miskin yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS). Apalagi terkadang data BPS dengan data dari pemda sering berbeda.

Kepala Bapeda Garut Drs. H. Iman Alirahman menambahkan, data daerah tertinggal yang dikeluarkan PDT itu ternyata berbeda dengan yang dikeluarkan BPS. PDT menyebutkan 238, sementara BPS 90 desa. Itu artinya, perbedaan itu menimbulkan pertanyaan mengenai verifikasi atas variabel atau parameter yang digunakan dalam pemberian batasan atau indikator desa tertinggal.

“Sayangnya penetapan daerah tertinggal itu ternyata tidak disertai dengan kebijakan implementasi yang jelas dan konsisten sesuai dengan jumlah desa tertinggal di daerah. Seharusnya, ada kebijakan yang jelas, baik dari pemerintah pusat maupun provinsi untuk bagaimana agar daerah memiliki kemampuan cukup dalam mengatasi ketertinggalan,” katanya.

Termasuk di dalamnya, tentu bagaimana agar indek pembangunan manusia (IPM) di Garut yang masih rendah sebagai indikator daerah tertinggal bisa meningkat.

Jadi pemacu

Menurut bupati, warga Garut di mana pun berada, hendaknya tidak menjadi rendah diri karena disebut sebagai daerah tertinggal.

Sebutan itu seharusnya menjadi pemacu untuk lebih berprestasi lagi di kemudian hari sehingga bisa mengejar ketertinggalan dalam berbagai hal.

“Kami di pemerintahan daerah, dengan sebutan itu, akan lebih memacu diri dan satekah polah (sekuat tenaga, -red.) lebih memajukan Garut. Tentu, semua itu harus didukung semua pihak,” tandasnya.

Bupati mengatakan, warga Garut saat ini justru harus bergembira. Pasalnya, walaupun disebutkan daerah tertinggal, tetapi kenyataannya bisa menorehkan prestasi yang bagus. Di Porprov Jabar lalu, misalnya, Kab. Garut bisa masuk 10 Besar, mampun mengalahkan daerah lain yang dikatakan sebagai daerah maju.

Dalam bidang pendidikan pun, putra-putra Garut ternyata bisa meraih nilai ujian nasional (UN) terbaik nasional. Demikian pula dalam bidang-bidang lainnya, termasuk dalam lomba desa, pencapaian target PBB tahun 2005, dan dalam bidang Adipura ditandai dengan diperolehnya best effort dari Menteri Negara Lingkungan Hidup.

“Bukti lain bahwa Garut walau tertinggal tapi tetap diperhitungkan, Kampung Sampireun Desa Sukakarya, Kec. Samarang, ternyata dicontoh oleh sebanyak 14 negara di Asia Pasifik karena dinamika ekonomi Samarang dinilai mampu menggerakkan partisipasi masyarakatnya. Itu merupakan kehormatan bagi warga Garut,” kata bupati.