185 Anak Yatim Athifah di Garut Perlu Perhatian Pemerintah

ANAK yatim dan yatim piatu, sebanyak 185 orang di lima desa Kabupaten Garut mengharapkan bantuan Pemerintah. lima desa itu antara lain Desa Situsari dan Pamulihan Kecamatan Cisurupan, Desa Sukajaya, Sukalilah dan Sukamulya Kecamatan Sukaresmi yang tergabung dalam anak yatim Athifah.

Titin Hartini (44) Pemerhati anak yatim sekaligus Ketua perkumpulan anak yatim Athifah memaparkan, dari hasil survey pihaknya jumlah anak yatim,piatu dan yatim piatu sebanyak 185 orang itu diantaranya di kisaran usia 12 tahun ke bawah.

Di antara anak-anak yatim ini, menurut Titin banyak yang kehidupannya di bawah garis kemiskinan. Bahkan diantara mereka ada yang putus sekolah dikarenakan ketidak mampuan biaya. Walaupun sekolah dasar itu gratis, tapi biaya sehari-hari yang mereka tidak mampu untuk memenuhi nya sehingga putus sekolah tidak bisa dihindari.

Dalam hal ini menurut nya Pemerintah lah yang harus terdepan dalam memberikan perhatian. Karena dengan segala kemampuan finansial, Pemerintah mampu dan memang memiliki tugas tersebut.

“Saya pribadi menginginkan anak-anak yatim khusus nya di sekitar sini jadi terjamin setiap bulannya, ada dana pendidikannya, dana makan nya. Utamanya Perhatian itu dari Pemerintah, karena kalau kita sendiri secara pribadi/swasta kan terbatas gak bisa meyantuni ratusan orang,” katanya usai acara santunan belum lama ini di Desa Situsari Kecamatan Cisurupan.

Titin mengharapkan 185 anak yatim ini bisa mendapat jaminan hidup secara kontinyu. Selain itu dia juga mengharapkan ada semacam pemberdayaan yang sifat nya memberikan pancing ketimbang ikan.

Diantaranya ada anak yatim di atas usia 12 tahun yang memang perlu pemberdayaan semacam pelatihan keterampilan. Untuk usia 12 tahun ke atas ini memang sudah waktunya hidup mandiri, tidak bisa lagi tergantung kepada santunan. Di sinilah dia memandang peran Pemerintah bisa memberdayakan anak yatim tersebut.

“Itu kan perlu pemikiran, anak-anak itu mau dibikin apa, mau dibikin penganggguran atau mau dididik atau mau dilanjutkan sekolah nya. Masa mau terus dikasih kan sudah 12 tahun mah harus mikir, harus kerja. Harusnya mereka diarahkan keterampilan misalnya wanita menjahit atau salon, nah itu kan perlu biaya, dan kalau perorangan kan susah,” katanya.

Titin sendiri saat ini rutin menjalankan program santunan setahun sekali selama tiga tahun terakhir. Selain memberikan santunan pribadi, dia juga mengkoordinir rekan-rekan organisasi dan komunitas tertentu pada acara tersebut di bulan Rajab dalam kalender Hijriah.

“Saya ingin sama-sama lebih memperhatikan. Sebenar nya itu kan kewajiban Negara. Saya hanya masyarakat kecil yang punya sedikit kepedulian lah,” pungkasnya.