832 PNS Garut Ajukan Ijin Gugat Cerai

Sebanyak 832 lembar surat permohonan ijin gugat cerai yang diajukan para PNS, dalam setahun terakhir ini masih menumpuk di kantor Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kab. Garut.

Surat usulan mereka tersebut belum direkomendasikan BKD yang masih berharap ke-823 yang mengajukan gugat cerai itu masih bisa dirukunkan kembali.

Kepala BKD Garut, Drs. H. Djadja Sudardja, M.Si, membenarkan atas masih menumpuknya surat permohoan ijin gugat cerai dikantornya,“Ya, memang benar selama setahun ini jika dihitung mencapai sebanyak itu. Kita masih mempertimbangkannya. Soalnya, yang dijadikan alasan pada surat tersebut sama. Yaitu, tidak ada kecocokan lagi,” kata Djadja, Kamis (19/11).

Namun saat dilakukan penelusuran kelapangan, ternyata ungkap Djadja, alasannya tidak seperti yang tertuang pada isi surat,“Ada yang gara-gara selingkuh, suaminya galak cemburu, pemabuk dan berjudi, tak hentinya bertengkar serta yang lainnya. Selama kasusnya bisa didamaikan, atau tidak dalam kondisi emergency lebih baik mereka dirukunkan kembali,” ucapnya.

Belum diprosesnya ratusan surat tersebut, kata Djadja, diharapkan pasangan suami istri yang tengah berselisih itu bisa dijadikan untuk Cooling down dulu,“Ya, hitung-hitung gencatan senjata dululah. Sebab, bila sudah dikabulkan surat permohonan ijin cerainya pihak Pengadilan Agama (PA) pun tak akan mempersulit lagi. Maka bercerailah pasangan suami istri itu,” tegas Djadja.

Dari sebanyak 832 lembar surat permohonan ijin gugat cerai itu, menurut Djadja, kebanyakannya berasal dari tenaga guru, atau pendidik,“Saya juga terkadang tidak mengerti sama sekali. Kok, guru begitu banyaknya ingin bercerai. Padahal, guru bisa disingkat harus di gugu dan ditiru. Tapi saya juga memahami lho, guru juga manusia. Cuma alasannya, harus benar-benar prinsif,” tandas Djadja.

Banyaknya kalangan guru yang nekat menjatuhkan talak cerai terhadap pasangannya, sempat mengundang keprihatinan Ketua PD II PGRI Kab. Garut, H. Alit Burhanudin. Menurutnya, jika dulu memang bisa logis guru banyak yang cerai. Karena ekonomi guru saat itu kurang baik,“Tapi sekarang, kehidupan guru sudah luar biasa. Lihat saja, disetiap halaman sekolah penuh sesak dengan motor guru. Rumahnya juga hebat lagi,” tandas Alit Burhanudin.