| Tweet |
Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Garut membutuhkan sebanyak 900 hingga 1.100 labu (kantong) darah setiap bulannya untuk didonorkan kepada pasien yang membutuhkan di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Garut.
“Kami kewalahan memenuhi permintaan darah, sebab sampai hari ini kami tidak memiliki stok darah yang cukup,”kata Kabag UTD PMI Cabang Garut,Agus Koswara. Dia melanjutkan, saat ini yang terpenuhi hanya 400 hingga 500 labu,sehingga kekurangannya sebanyak 50% terpaksa dipenuhi dari donor keluarga pasien yang memerlukannya.
Untuk mengantisipasi kekurangan darah tersebut, UTD PMI Cabang Garut mendapat pasokan dari kabupaten dan Kota Bandung. ”Saat ini UTD PMI Cabang Garut masih dipasok dari kabupaten dan Kota Bandung, dengan biaya yang sangat mahal,yakni Rp200 ribu per kantong,”tuturnya.
Menurut Agus, salah satu faktor yang menyebabkan kekurangan stok karena kurangnya pendonor yang menawarkan diri.“Yang sering kami ajak kerja sama hanya Bagian Informatika Setda Garut dan beberapa perusahaan swasta lainnya,”tukasnya. Sementara itu, jumlah penderita penyakit thalassaemiadi Kabupaten Garut saat ini mencapai 130 orang.
Garut paling tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Barat.Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassaemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Garut, H Pipin Ramdhani mengatakan,setelah dilakukan pendataan, jumlah penderita penyakit kelainan darah yang disebabkan oleh faktor keturunan di Kabupaten Garut paling tinggi.
“Penderita paling banyak terdapat di daerah Garut Selatan, kami prihatin melihat kondisi ini,” ujar Pipin yang ditemui di sela acara kunjungan terhadap para penderita penyakit thalassaemia di RSU dr Slamet Garut,kemarin. Pipin meminta pihak pemerintah lebih memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan thalassaemia ini sehingga diharapkan dapat mencegah terus bertambahnya penderita penyakit yang rata-rata menyerang anak-anak ini.