Aparat Desa Kersamanah Tahan 288 Karung Raskin

Petugas menunjukkan beras untuk rakyat miskin (raskin) yang berkualitas rendah di aula Desa Kersamanah, Kec. Kersamanah, Kab. Garut, Rabu (1/9). Sedikitnya, 288 karung raskin ditolak warga dan ditahan di kantor desa karena berkualitas rendah.

GARUT, (PR).-
Akibat kualitas beras untuk rakyat miskin (raskin) rendah, aparat Desa Kersamanah, Kec. Kersamanah, Kab. Garut, menahan 288 karung raskin di kantor desa. Pasalnya, masyarakat menolak untuk mengonsumsinya karena khawatir kualitas raskin yang rendah bisa berdampak negatif bagi kesehatan.

Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Kersamanah, Dadang, mengakui hal tersebut ketika ditemui Rabu (1/9). “Kami terpaksa tahan raskin yang kualitasnya jelek. Belum sempat dibagikan ke masyarakat, keburu ketahuan saat penyortiran,” katanya.

Jatah raskin Desa Kersamanah mencapai 13 ton per bulan untuk 1.000 rumah tangga miskin (RTM) dengan harga Rp 1.600 per kilogram. Dari jumlah tersebut, 1/3 bagian, sebanyak 288 karung raskin berkualitas buruk hasil pengiriman pada Senin (30/8).

Dari pemantauan “PR” di lapangan, ratusan karung raskin yang berkualitas buruk itu ditumpuk di aula kantor desa. Kondisi bulir beras kecil-kecil, berwarna kuning, berbau, dan bercampur kutu.

Dadang mengaku kondisi raskin yang buruk sudah diterima Desa Kersamanah sebanyak dua kali. “Kami minta dilakukan penggantian secepatnya oleh Dolog. Namun, sudah tiga hari disimpan belum juga ada penggantian,” katanya.

Hal serupa diungkapkan Camat Kersamanah, Akhmad Sopari. “Dalam rapat koordinasi dengan Dolog, saya sudah utarakan bahwa beras yang kualitasnya jelek harus diganti pada hari yang sama supaya masyarakat penerima manfaat bisa kebagian semua. Kalau telat diganti seperti ini, kasihan ma-syarakat,” ujarnya.

Seorang warga Kp. Kurnia Desa Kersamanah, Mak Iyah (65) mengaku, dirinya belum kebagian raskin. Ia mengatakan, dirinya sempat beberapa kali mendapat jatah raskin berkualitas rendah. “Kadang ada kutunya atau warnanya kuning. Jadi, suka saya masukkan lagi ke penggilingan biar bersih,” ucapnya.

Hal serupa diungkapkan Tata (38). “Kami tolak saja raskin yang jelek. Sudah berkutu, kotor, pokoknya tidak layak konsumsi. Masak, mau Lebaran makan nasi buruk,” katanya.

Sebelumnya, empat kelurahan di Kec. Garut Kota menolak jatah raskin karena tidak layak konsumsi. Menurut Kepala Gudang Subdivre Dolog Garut Ujang Darajat, kondisi beras yang termasuk stok lama itu turut dipengaruhi faktor cuaca yang tidak menentu sehingga lembab.