Kerajinan Masyarakat Adat Dukuh, Dilirik Pengelola Hotel Berbintang

Beragam produk kerajinan masyarakat adat Kampung Dukuh di Desa Ciroyom Kecamatan Cikelet, sekitar 140 km arah selatan dari pusat Kota Garut, banyak dilirik pengelola beberapa hotel berbintang dari Bandung, Jakarta juga dari Tasikmalaya.

Mereka umumnya memesan seperangkat poci, cangkir serta baki yang seluruhnya alami terbuat dari bambu serta tempurung kelapa, sehingga kami kewalahan, ungkap tokoh pemuda masyarakat tradisional tersebut, Yayan Hermawan(46) kepada Garut News, Jumat.

Selain itu, terdapat pesanan jenis asesories lainnya, yang juga terbuat dari bambu serta batang pohon, namun dipastikan tidak bisa dipenuhi segera bagi pemesan dari pengelola hotel berbintang serta restouran mewah itu, akibat selama ini diproduk secara manual.

Dengan peralatan pertukangan sangat seadanya, meski pernah mendapat bantuan pemerintah daerah, namun kini kondisinya kian tak memadai disebabkan berusia tua, katanya.

Sehingga diharapkan adanya bantuan berupa mesin bubut kayu, untuk mengolah limbah pohon bambu serta limbah pohon yang telah tumbang, ungkap Yayan.

Masyarakat adat juga selama ini, melakukan budidaya pohon bambu serta kegiatan penghijauan, termasuk menjaga ketat “leuweung’ (hutan) keramat maupun hutan larangan, yang sama sekali tidak boleh ditebang.

Sedangkan mendesaknya bantuan pertukangan, antara lain untuk menyerap banyak tenaga kerja setempat, yang kini masih banyak belum memiliki pekerjaan, selain sebagai petani penggarap, ungkapnya.

Yayan Hermawan ditemui pada anjungan minimalis pada arana ekspo 2011 di Alun-Alun Garut, sedangkan anjungan Dinas Kehutanan saat dikunjungi masih belum terdapat petugas yang bisa menjelaskan upaya budidaya, Alkesa (lukumma nervosa).

Buah pohon hutan tersebut, berwarna jingga antara lain mengandung karoten, fosfor, kalsium, protein serta vitamin C, yang bisa dikonsumsi langsung atau diproduk menjadi “ice cream” dan minuman susu kocok (milk shake), Garut News juga belum mendapat penjelasan tentang budidaya sawo kecik.

Sedangkan pada anjungan Dinas Tanaman Pangan, yang marak mendagangkan makanan ringan, menurut Ir Yudi Hermawan, MP sebagai diversivikasi produk, karena bahan bakunya dari tanaman pangan, katanya.

Anjungan Badan Penyuluhan Pertanian juga “cawerang” atau asal-asalan, banyak mendagangkan keripik, sementara itu petugas anjungan Dinas Kesehatan belum bisa menjelaskan jenis serta jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) selama 2011 ini.

“Kemudian kepada siapa lagi kami harus dan bisa bertanya,” ungkap beberapa pengunjung lain.