Gunung Papandayan Berpotensi Membahayakan, Masyarakat Jangan Panik

Seiring adanya laporan tentang meningkatnya aktivitas Gunung Papandayan di kawasan Kec. Cisurupan, Kab. Garut, masyarakat di sekitar gunung menjadi resah karena khawatir gunung api tersebut tiba-tiba saja meletus. Namun Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Dr. Surono mengimbau agar masyarakat tidak panik meski bila gunung tersebut meletus bisa mengancam banyak warga.

“Dalam beberapa pekan terakhir kami dilatih oleh aparat terkait serta LSM untuk mengungsi guna mengantisipasi kemungkinan Gunung Papandayan meletus,” kata Odang, warga Cisurupan, Minggu (7/8).

Peningkatan status Gunung Papandayan tersebut sudah dilaporakan Surono kepada Presiden RI, Sabtu (6/8). “Saya bertemu Pak Presiden untuk menyampaikan potret kondisi gunung api di Indonesia saat ini, terutama Papandayan yang berada di Kab. Garut,” kata Surono.

Diakui Surono, hari Sabtu (6/8) dirinya dipanggil Presiden untuk membahas perkembangan kondisi gunung api aktif di Indonesia saat ini. Presiden ingin mengetahui sejauh mana ancaman bahaya terhadap masyarakat yang ada di sekitar kawasan gunung api menyusul adanya peningkatan aktivitas kegempaan maupun kegunungapian.

Saat ini sebanyak 18 gunung api aktif di Indonesia sedang dalam pengawasan ketat, 2 di antaranya berstatus siaga yaitu Gunung Lokon dan Gunung Ibu. Sedangkan sisanya berstatus waspada termasuk Gunung Papandayan.

Menurutnya, Gunung Papandayan sejak tahun 2008 lalu telah ditetapkan berstatus waspada level II yang ditandai dengan peningkatan aktivitas vulkanik yang memengaruhi suhu permukaan di Kawah Mas hingga 260-300 derajat Celsius. Kondisi tersebut berbahaya untuk pendakian.

Saat ini pihaknya masih memantau tingkat deformasi sehingga belum dapat diputuskan untuk peningkatan status menjadi siaga. Tahapan status gunung api pun tak bisa diprediksi, tergantung aktivitas yang terjadi hingga akhirnya bisa meletus.

Surono juga menyinggung tentang kondisi Gunung Guntur yang menurutnya masih aktif. Sudah 160 tahun Gunung Guntur dalam kondisi “tidur”, sehingga lamanya waktu dormansi tersebut menimbulkan potensi meletus yang cukup tinggi. Sedangkan sepengetahuannya, masyarakat sekitar gunung ini hidup terlalu dekat. Bahkan bangunan strategis juga menempel sehingga diakuinya sulit untuk menghalau ancaman bahaya.

Masih fluktuatif

Camat Cisurupan, Iman Prayogi menyatakan petugas di Posko Pengamatan Gunung Papandayan yang berada dekat dengan permukiman warga selalu memberi laporan mengenai kondisi aktivitas gunung berapi. Dalam sepekan terakhir sempat terjadi peningkatan aktivitas di Gunung Papandayan, namun masih fluktuatif. Oleh karena itu Iman menilai tidak terlalu merisaukan kecuali aktivitas yang tinggi berlangsung selama beberapa hari.

Karena menyadari adanya potensi bencana besar di kawasan tersebut, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Malah pekan kemarin ada LSM yang membantu kami melatih warga terkait penanganan medis untuk penanganan bencana,” ujarnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Garut, Zatzat Munazat menyatakan, pihaknya bekerja sama dengan LSM telah mengambil langkah untuk melakukan peningkatan kesadaran masyarakat yang tinggal di kawasan bahaya letusan gunung berapi.