Perum Perhutani KPH Garut Bantu Air Bersih untuk Lima Desa

Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Garut, Rabu (21/9) memberikan bantuan air bersih bagi lima desa di Kec. Cibatu dan Kec. Selaawi, Kab. Garut, yang belakangan ini dilanda kemarau panjang. Kelima desa tersebut, Desa Sindangsuka, Keresek, Girimukti, Desa Mekarsari (Kec. Cibatu), dan Desa Mekarsari di Kec. Selaawi.

Menurut Kepala Administratur Perum Perhutani KPH Garut, M. Yusuf N., bantuan diberikan sebagai wujud kepedulian Perum Perhutani terhadap masyarakat.

Masing-masing desa mendapat satu tangki air bersih yang dipasok dari PDAM Kab. Garut dengan kapasitas 5.000 liter. Satu tangki diperuntukan bagi kebutuhan warga selama dua hari.

Agar bantuan tepat sasaran, sesuai priorits, pihaknya berkoordinasi dengan Pemkab Garut. Karena pemerintah lebih mengetahui wilayah mana yang benar-benar harus dibantu.

“Soal kebutuhan, semua tempat juga pasti perlu dibantu. Tapi kami tidak bisa membayangkan jika seluruh tempat di Kab. Garut mendesak minta bantuan. Apalagi menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan akan turun pada bulan Oktober mendatang. Karena itu, kami lebih mengutamakan tempat yang benar-benar harus dibantu sesuai arahan pemda,” katanya.

Lebih jauh Yusuf mengungkapkan, berkurangnya air bersih di beberapa tempat di Kab. Garut tidak lepas dari menyusutnya kawasan hutan lindung. Menurut catatannya, saat ini kawasan hutan lindung di Kab. Garut berkurang 5% dari total 81.000 ha.

“Kami merasa prihatin dengan kondisi hutan lindung di Kab. Garut saat ini, 5% di antaranya musnah akibat berbagai faktor seperti perambahan dan alih fungsi. Dari 81.000 ha hutan lindung yang kita miliki, 4.000 ha di antaranya hilang,” jelas Yusuf.

Karena itu, ia mengimbau semua pihak untuk menjaga dan melestarikan hutan. Termasuk siapa pun yang memiliki visi sama dengan Perum Perhutani untuk bersama-sama menjaga hutan.

Salah satu upaya untuk melestarikan hutan, pada Oktober mendatang Perum Perhutani KPH Garut akan melakukan sosialiasi untuk mengajak warga di 39 desa, seperti Kec. Cikajang, Samarang, Pasirwangi, Leles, Cabatu, dll. agar mengembalikan fungsi hutan lindung melalui alih komuditas dari sayuran ke tanaman kopi.

Upaya ini, menurut Yusuf lebih rasional, kondusif, dan memiliki nilai ekonomis. Kelestarian hutan lindung tetap terjaga dan para petani penggarap tetap memperoleh penghasilan.

Satu hal lagi, tanaman kopi juga mampu menyerap dan menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan warga setempat. Contohnya Desa Cisero, Kec. Cisurupan yang sebelumnya kesulitan air bersih terutama pada musim kemarau.

Setelah hutan lindungnya ditanami kopi, saat ini tidak pernah kekurangan air. Dari musim ke musim, debit air di tempat itu tidak pernah surut.

Janji bantu

Sementara itu, Pemkab Sukabumi berjanji akan membantu distribusi air bersih untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat yang dilanda krisis air. Bahkan, Pemkab Sukabumi sudah menginstruksikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) serta perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) turut membantu mengatasi krisis air yang dialami masyarakat di pelosok daerah Kab. Sukabumi.

“Kami sudah meminta PDAM dan perusahaan AMDK agar membantu memberikan air bersih kepada masyarakat yang dilanda krisis air bersih. Hal itu dilakukan guna mengatasi kesulitan air saat musim kemarau berlangsung,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kab. Sukabumi, Drs. H. Adjo Sardjono ketika ditemui “GM” usai melepas peserta Pramuka tingkat nasional di Pendopo Negara, Kab. Sukabumi, Rabu (21/9).

Ia mengatakan, sejumlah daerah di Kab. Sukabumi yang sudah memperoleh bantuan air bersih untuk minum sehari-hari di antaranya warga Kec. Cidahu dan Kec. Nagrak. Warga di dua kecamatan itu memperoleh suplai air bersih dari PDAM Kab. Sukabumi.

“Untuk dua daerah itu, krisis airnya sudah sangat parah. Karena itu, kami menginstruksikan PDAM Kab. Sukabumi segera memberikan bantuan air kepada warga di sana,” katanya.