| Tweet |
Di tengah kesibukannya belajar di kampus, puluhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Airlangga (Unair) menyempatkan waktu untuk mengajar anak-anak di daerah tertinggal dan kurang mampu.
“Barudak,besok bawa kaleng susu ya,untuk pelajaran IPA,”kata Ririn di depan para murid SD Bojong,Garut,Jawa Barat.“Gakada kaleng susu Bu,di sini mahjarang minum susu,”jawab salah seorang siswa dengan polosnya.Jawaban itu membuat Ririn tertegun.Maklum saja,Ririn bukanlah guru permanen di sekolah dasar (SD) tersebut.
Dia adalah mahasiswa Psikologi UI yang bergabung dalam program UI Mengajar. Selama hampir satu bulan ini,mahasiswa Fakultas Psikologi UI angkatan 2009 ini dan teman-temannya bertugas mengajar lima SD di Bojong,Garut Selatan. Meskipun di daerah yang jauh dari ingarbingar kota,Ririn dan 29 rekannya tetap semangat menjalani misi mulia,mengajar di daerah tertinggal. Bagi Ririn Afitri,mengajar di daerah tertinggal merupakan tugas mulia yang sangat menyenangkan.
Mengusung nama “Aksi Mengajar di Desa Bojong, Garut Selatan”. Gerakan UI Mengajar diprakarsai oleh Bidang Sosial Kemasyarakatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI tahun 2011 sebagai salah satu program sosial para mahasiswa Universitas Indonesia. Para mahasiswa yang bisa ikut program ini pun tak sembarangan.Ketiga puluh mahasiswa yang terpilih sebagai pengajar telah melalui proses seleksi yang cukup ketat.Dari ratusan mahasiswa yang ikut mendaftarkan diri,hanya 30 orang yang lolos.Selanjutnya dengan pembekalan yang matang,para pengajar tersebut ditempatkan di lima sekolah dasar.
Selama hampir satu bulan,para mahasiswa ini membantu proses kegiatan belajar mengajar di sekolah selama satu bulan.Selain mengajar,pengajar juga melakukan kegiatan sosial lainnya,seperti pembangunan sarana fisik (fasilitas mandi cuci kakus/MCK),serta penyuluhan kesehatan untuk masyarakat.Untuk mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna selama program tersebut, para pengajar dan pengelola akan berbaur dan tinggal bersama dengan penduduk desa tersebut. Boleh dibilang,program mulia yang dilakukan ini muncul sebagai rangkaian dari Gerakan Indonesia Mengajar.
Untuk itulah,Indonesia Mengajar memberikan dukungan kepada para penggagas Gerakan UI Mengajar berupa pendampingan dan bantuan konsultasi terkait konsep awal hingga proses seleksi. “Kami selalu mendukung Gerakan UI Mengajar ini.Ini sejalan dengan gagasan yang diimpikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar sejak awal berdirinya.Setiap orang terdidik di Indonesia memiliki kewajiban untuk mencerdaskan saudara sebangsanya.Gerakan pendidikan ini akan semakin meluas dengan partisipasi kampus-kampus, berbagai daerah yang mendirikan gerakan dengan semangat yang sama.
Selamat berjuang Gerakan UI Mengajar,”kata Hikmat Hardono,Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar. Rupanya,Gerakan Indonesia Mengajar ini juga menular ke Kota Surabaya,tepatnya di Universitas Airlangga,Surabaya.Baru-baru ini BEM Unair juga meluncurkan program School of Airlangga in Harmoni (Scholah)-Unair Mengajar di Rumah Belajar Insani,Jalan Panjang Jiwo V-A,Surabaya. Di hadapan sekitar 40-50 anak usia SD hingga SMP di Kampung Panjang Jiwo itu,belasan aktivis/ pegiat BEM Unair tampil mengajarkan berbagai hal.
Di antaranya pembelajaran motivasi tentang berani bermimpi (life mapping),pembelajaran hidup bersih dan sehat (PHBS) tentang cuci tangan,dan lain-lainnya. Tak hanya itu,mereka juga mengajari anak-anak untuk berani bermimpi.Pengajaran ini dilakukan dengan cara yang tidak membosankan. Para mahasiswa mengajarinya dengan menayangkan video film kartun tentang pentingnya mimpi untuk mewujudkan cita-cita. Lalu,anak-anak kampung itu diminta untuk menuliskan cita-citanya dan sebagian diminta menjelaskan atau memperagakan cita-citanya itu.
Di sela-sela pembelajaran itu,para mahasiswa peserta Scholah Unair Mengajar mengajak puluhan anak-anak itu menyanyi lagu anak-anak,seperti Potong Bebek Angsayang dipimpin seorang anak yang bercita-cita menjadi penyanyi.Tak hanya itu, para mahasiswa membantu anak-anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya yang dirasakan sulit,namun sebagian anak itu tidak sekolah karena sebagian dari mereka adalah anak-anak jalanan yang ditampung dalam Rumah Belajar Insani. “Kami tidak hanya mengajar,kami juga membagikan dua kardus buku yang kami dapatkan dari kampanye Satu Mahasiswa-Satu Buku pada Desember 2011.
Lalu hasilnya akan kami bagikan kepada lima rumah belajar yang akan kami datangi sepanjang tahun 2012,”kata Ristanto, mahasiswa peserta Scholah. Senada dengan itu,Koordinator Program Scholah Unair Mengajar BEM Unair Royan Dawud Aldian mengatakan,pihaknya akan menjadi Scholah Unair Mengajar sebagai program berkesinambungan.Karena itu,pihaknya tidak akan mendatangi lima rumah belajar itu dengan sekali datang.
“Ada 17-an aktivis BEM Unair yang menjadi pengajar dalam program itu,dan mereka akan melakukan pendampingan di lima rumah belajar yang sebagian merupakan tempat belajar anak-anak jalanan dan anak tidak mampu itu, namun akan disesuaikan dengan waktu luang mahasiswa dan anak-anak itu,”katanya.
Mahasiswa semester lima Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair itu mengakui konsep Scholah Unair Mengajar memang merujuk program Indonesia Mengajar,namun Scholah diperuntukkan mahasiswa,sedangkan Indonesia Mengajar itu untuk sarjana. ● wuri/antara