| Tweet |
Masyarakat yang penghasilannya pas-passan merasa dipusingkan karena pembelian sembilan bahan pokok harganya pada naik, terutama harga beras ,seperti di rasakan Ita ( 40) pasangan Ate (42) yang di karunia 6 anak ,tinggal di rumah sewaannya terbuat dari bambu yang sudah reyot berukuran 3x4 m ,bekerja sebagai buruh cangkul di sawah , warga kampung salamnunggal Rt 2/05 Desa salamnunggal kecamatan leles kabupaten Garut ,
Sejak harga beras naik Rp 9500/kg terpaksa masak nasi di kurangi biasanya 1.1/2 kg jadi 1 kg, mau tidak mau anak-anak makannya di kurangi karena nasi nya sedikit.
karena tidak cukup uangnya terpaksa anak-anak makan dengan garam itu dilakukan hampir setiap hari asal di isi saja perutnya ,kalau mau makan dengan kurupuk atau dengan kecap harus ngutang dulu dari warung.Anak-anak tidak pernah menikmati makanan layaknya seperti yang di nikmati masyarakat lainnya.,mengaku pernah membeli beras raskin dari Rt, namun saat ini beras raskin tidak ada lagi.Tutur Ati sambil meneteskan air mata kesedihannya .
Ate di temui medikom di rumahnya selasa pagi (24/1) menceritakan keadaan nasib dirinya ,merasa sedih karena tidak bisa membahaggiakan anak-anaknya seperti anak yang lainnya. Sambil menunnjukkan tangannya ke arah anak paling kecil yang sedang makan hanya dengan garam .
Dan sedihnya lagi istri sedang hamil sembilan bulan sebentar lagi akan melahirkan dari mana biaya nya sedangkan bekerja hanya menyangkul di sawah upah hanya Rp 2.5000 sehari ,itupun kalau ada yang menyuruh , belum lagi sewaan rumah sudah dua bulan belum dibayar ,sebulannya , Rp 50.000 ,untung yang punya rumah memakluminya
Kalau tidak ada yang menyuruh kesawah,terpaksa berangkat ke Gunung guntur sejauh kurang lebih 10 kilo meter mencari kayu bakar untuk di jual dengan harga Rp 20.000 /pikul .berangkat pukul 4 subuh, pulang pukul 2 siang, pekerjaan yang berat ini terpaksa di lakukan karena tidak ada lagi penghasilan yang lain nya.