415 Narapidana Lapas Garut Dapat Remisi

Sebanyak 415 orang Narapidana dan Anak Pidana lembaga permasyarakatan (LAPAS) Klas II B Garut mendapatkan remisi. Surat keputusan pengurangan masa menjalani pidana (remisi) tersebut diberikan secara simbolis kepada 2 orang narapidana oleh Bupati Garut H. Aceng HM Fikri,S.Ag di lembaga Permasyarakatan (LAPAS) Klas IIB Garut, Jumat (17/8) pagi. Remisi diberikan sehubungan dengan peringatan HUT kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2012 dan Idul Fitri 1433 H.

Berdasarkan keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI nomor: W.8.1847 PK.01.04-Tahun 2012, untuk Remisi umum (RU) I dan RU II yang berkaitan dengan HUT RI diberikan kepada sebanyak 364 orang, mereka masing-masing mendapatkan pengurangan masa menjalani pidana antara 4 sampai 1 bulan. Sementara remisi khusus yang berkaitan dengan Hari Raya Idul Fitri diberikan kepada 51 orang Narapidana dan Anak Pidana.

Hadir dalam pemberian Remisi wakil Bupati Garut H. Agus Hamdani,GS,S.Pdi; ketua DPRD Garut Ahmad Bajuri,SE; Sekda Garut H. Iman Alirahman,SH,M.Si; Dandim 0611 Garut Letkol Arm Edy Yusnandar; serta para Pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Garut dan tamu undangan.

Bupati Garut H.Aceng HM Fikri,S.Ag saat membacakan sambutan Menteri Hukum dan HAM RI Amir Syamsudin mengatakan, perlakukan manusiawi terhadap pelanggar hukum merupakan suatu kewajiban sebagai sebuah bangsa yang beradab.  Keberadaban kita dapat dilihat sejauhmana kita mampu memberikan perlakuan yang terbaik terhadap mereka para pelanggar hukum, sebab mereka salah satu bagian dari warga negara yang tetap memiliki hak-hak untuk dihormati dan dipenuhi yang didasarkan pada penghormatan terhadap hak dan martabat kemanusiaannya.

Salah satu hak yang dimiliki pelanggar hukum dalam hal ini para narapidana adalah hak mendapatkan pengurangan masa menjalani pidana (remisi). Sebab hal itu telah diatur secara tegas dalam undang-undang no 12 tahun 1995 tentang permasyarakatan, bahwa “ setiap narapidana mempunyai hak untuk mendapatkan pengurangan masa menjalani pidana ”,tegas Bupati.

Bupati menambahkan, pemberian remisi janganlah diartikan sebagai upaya memanjakan narapidana, atau sebagai upaya yang seakan-akan memihak pada kepentingan narapidana. Namun harus dipahami secara mendalam dari sisi kemanusiaan bahwa pemberian remisi pada dasarnya merupakan wujud kepedulian kita untuk menjaga agar narapidana tetap mampu menjadi manusia seutuhnya; manusia yang mampu menjaga integritas hidup, kehidupan dan penghidupannya. Apalagi pemberian remisi tahun ini memiliki makna yang sangat berarti, karena bertepatan dengan bulan suci ramadhan, bulan yang penuh rahmat, barokah dan ampunan dari Alloh SWT.