Akibat Kesulitan Air Bersih Penyakit Mulai Serang Warga

Dampak kemarau panjang, warga di sejumlah kecamatan di Kab. Garut sulit mendapatkan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mandi, minum, dan mencuci mereka terpaksa menggunakan air yang kurang layak. Akibatnya, banyak yang mulai terserang berbagai penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Menurut Kepala Puskesmas Bagendit, Kec. Banyuresmi, Deden Kadarusman, M.Si. pada bulan Juli lalu warga yang terserang diare dan berobat ke puskesmas berjumlah 168 orang. Jumlah tersebut semakin meningkat pada bulan berikutnya, yakni mencapai 193 pasien. Jika krisis air bersih tidak segera diantisipasi, tidak tertutup kemungkinan jumlah penderita diare semakin meningkat lagi.

“Krisis air khususnya di Kec. Banyuresmi terjadi di Desa Karyasari dan Desa Dangdeur. Untuk kebutuhan minum dan memasak, warga masih bisa memanfaatkan mata air terdekat. Namun untuk mandi dan mencuci, mereka menggunakan air Sungai Cimanuk yang telah tercemar limbah rumah tangga dan pabrik di kawasan Garut Kota,” jelas Deden, Rabu (5/9).

Lebih jauh Deden mengatakan, penyebab diare salah satunya perilaku hidup tidak sehat. Tapi bisa juga disebabkan faktor lain, salah satunya mengonsumsi air kotor atau air yang tidak layak dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akibat kesulian air bersih. Untuk itu, air bersih mutlak diperlukan sebagai salah satu penunjang kesehatan.

Selain diare, kurangnya sanitasi juga bisa membuat warga terjangkit penyakit lainnya, seperti ISPA atau influenza. Jumlah pasien yang terjangkit penyakit ini juga mengalami peningkatan. Pada bulan Juli jumlah penderita ISPA sebanyak 376 pasien. Sedangkan pada Agustus jumlahnya 390 pasien.

Meningkatnya jumlah pasien diare dan ISPA juga terjadi di Kec. Selaawi. Terlebih kecamatan tersebut salah satu kawasan yang selalu mengalami krisis air bersih saat kemarau panjang. Hal ini dibenarkan Kepala Puskesmas Selaawi, dr. Aceng Muhammad Turmudi. Menurutnya, peningkatan jumlah penderita diare di Kec. Selaawi terjadi sejak Mei 2012, yakni mencapai 259. Sedangkan pada bulan Agustus mencapai 300 pasien.

Begitu pun dengan ISPA, pada bulan Mei jumlahnya 258 pasien. Sedangkan pada Agustus mencapai 333 pasien. Penyebab merebaknya ISPA dan diare di Selaawi, ujarnya, salah satunya diakibatkan cuaca dan sulitnya warga mendapat air bersih.