garut header
Rabu, 22 Nopember 2017   English | Sunda
rss2
:: Menu Utama Sumber Daya Alam


Lingkungan Hidup
Permasalahan dan Kinerja
 
Permasalahan serta Upaya Pemecahan

1. Permasalahan
 
  1. Belum maksimalnya pelaksanaan koordinasi kegiatan antara pemerintah, propinsi, kabupaten/kota yang diindikasikan belum optmalnya kinerja dan hasil-hasil upaya pengendalian dalam mencegah dan mengurangi tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan.
  2. Tingkat kepedulian dan ketaatan masyarakat terhadap berbagai peraturan pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan masih rendah karena kurang intensifnya pelaksanaan sosialisasi peraturan yang sudah ditetapkan.
  3. Upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan di lapangan belum dapat dilakukan secara luas mengingat terbatasnya aparat dan sistem pemantauan lingkungan.
  4. Sinergitas kegiatan dalam program peningkatan efektivitas pengelolaan dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup masih didukung oleh program lain yang terkait, sehingga beberapa kegiatan terobosan untuk meningkatkan perilaku rumah lingkungan melalui pendidikan dan pelatihan kader lingkungan serta sosialisasi pengelolaan lahan kritis (sekolah berbudaya lingkungan) belum berjalan maksimal, atau kegiatan penanganan cekungan air tanah kritis belum terlaksana secara efektif.
  5. Beberapa hasil Feasibility Study IPAL terpadu dan proyek percontohan belum dapat diimplementasikan dan dikembangkan lebih lanjut kerena kendala pembiayaan yang sangat terbatas.
  6. Pelaksanaan proses pencapaian 45% kawasan lindung Kabupaten Garut masih dihadapkan pada kendala kawasan lindung non hutan karena sebagian berkaitan dengan tanah yang berstatus hak milik, dimana pengelolaan lahan sangat bergantung kepada pemahaman pemilik lahan terhadap nilai-nilai ekologi, ekonomi, dan sosial dari lahan.
  7. Belum efektifnya upaya dan mekanisme pengendalian terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi, yang diindikasikan masih tingginya alih fungsi lahan dengan fungsi lindung menjadi lahan budidaya.
  8. Upaya rehabilitasi lahan kritis belum berjalan efektif, karena pada pelaksanaannya dihadapkan berbagai kendala seperti musim kemarau panjang, gangguan ternak, dll.
2. Upaya Pemecahan
  1. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi antara pemerintah propinsi, kabupaten/kota, dan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan secara terpadu, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dan pengendaliannya.
  2. Mengintensifkan kegiatan sosialisasi peraturan, pengawasan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan secara berkala kepada para pemangku kepentingan.
  3. Mengefektifkan PPNS, meningkatkan kerjasama dengan aparat penegak hukum, mengembangkan peran masyarakat pemantau lingkungan, dan mengembangkan sistem pemantauannya.
  4. Meningkatkan koordinasi dan sinergitas kegiatan antar instansi terkait untuk mengembangkan program dan kegiatan terpadu.
  5. Mempromosikan hasil studi kelayakan kepada investor, mengembangkan pola pembiayaan infrastruktur lingkungan melalui sharing pemerintah dunia usaha, dan lembaga donor.
  6. Mengembangkan pemberdayaan masyarakat, melibatkan masyarakat pemilik lahan dalam program pemantapan kawasan lindung dan pengelolaan lingkungan.
  7. Mempercepat penyelesaian penataan batas dan pengukuhan kawasan lindung, meningkatkan upaya penyuluhan dan pembinaan kepada para pengelola lahan di lapangan
  8. Menyempurnakan perencanaan, memperbaiki pola dan mekanisme pelaksanaan penanganan lahan kritis, serta meningkatkan peran dan keterlibatan masyarakat dalam penanganan lahan kritis.
Perkembangan Capaian Kinerja Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Penataan Kota Tahun 2007
Hasil kinerja yang telah dicapai adalah :
  • Tersedianya alat ukur kualitas air sebanyak 7 (tujuh) jenis alat yang diharapkan dapat mendeteksi secara dini tingkat pencemaran air sehingga lebih lanjut dapat dilakukan penanganan awal penanggulangan pencemaran air. Adapun alat-alat tersebut antara lain spektrofotometer, DO meter, pH meter, konduktivity meter, turbidi meter, global positioning system (GPS), current meter.
  • Tersedianya mesin kompos yang dapat mengeliminasi timbunan sampah organik, yang diharapkan dapat menghasilkan kompos sebagai pupuk.
  • Adanya penambahan IPAL III yang merupakan bantuan dari Departemen Perindustrian yang peresmian pengoperasiannya akan dilakukan oleh Menteri Perindustrian dalam waktu yang tidak lama, yang diharapkan dapat dioperasionalkan secara optimal guna mengurangi tingkat pencemaran air di wilayah Sukaregang.
  • Telah terpasangnya lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) sejumlah 3200 buah dengan perincian
 
  • Di perkotaan sejumlah 1800 buah
  • Tersebar di kecamatan sejumlah 1400 buah
  • Terdapatnya penambahan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) sebanyak 158 titik yang tersebar di 42 kecamatan.
  • Terwujudnya cakupan pelayanan sampah di 5 kecamatan seluas 19.679 Ha, yang mencakup jumlah penduduk sebanyak 469.796 jiwa.
  • Sarana dan prasarana pengelolaan persampahan
 
  • TPA = 1 buah
  • TPS = 46 buah
  • Tong sampah = 400 buah
  • Alat angkut = 41 buah gerobak/roda dan 3 alat berat
  • Daya angkut persampahan (volume timbunan)
 
  • sampah penyapuan jalan/fasilitas umum = 51 m3/hari
  • sampah pasar = 81 m3/hari
  • sampah industri = 291 m3/hari
  • sampah pemukiman = 939.595 m3/hari
  • Tingkat Pengumpulan dan pengangkutan
 
  • Permukiman 54 %
  • Pasar 9 %
  • Komersial/Industri 21 %
  • Fasilitas umum/jalan 16 %
Prestasi Tahun 2006/2007
Penghargaan yang diraih oleh Kabupaten Garut pada tahun 2006/2007 dalam bidang lingkungan hidup adalah :
  • Mendapat Penghargaan Adipura Tahun 2007 kategori kota kecil, yang merupakan penghargaan Tingkat Nasional dalam rangka mewujudkan kota yang bersih dan hijau.
  • Upaya Terbaik (Best Effort) dalam Program Adipura Tahun 2005 – 2006 untuk kategori kota kecil.
  • Meraih penghargaan sebagai Juara III dalam Program Adiwiyata (Sekolah Berbudaya Lingkungan) Tingkat Propinsi Jawa Barat yang diraih oleh SMK YPPT Garut.
Meraih Juara Pertama untuk Kalpataru penghargaan pelestarian lingkungan Tingkat Propinsi Jawa Barat yang diperoleh oleh Bapak Dayo dari Kecamatan Sucinaraja, sebagai pembuat terowongan air.
Tekan tuts panah kiri/ kanan Keyboard untuk berpindah ke artikel lain