SEKOLAHSUNGAICIMANUK.COM,- Pengenalan lingkungan sekolah tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Itulah yang dilakukan SMPN 1 Bayongbong dengan menggandeng Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026. Sebanyak 440 peserta didik baru diajak memahami bahwa menjaga sungai bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab setiap warga, termasuk pelajar.
Kegiatan yang berlangsung pada hari ketiga MPLS, Rabu (15/7/2026), menghadirkan pegiat lingkungan dari SSC, Mulyono Kadapi, yang mengajak para siswa melihat Sungai Cimanuk bukan sebagai saluran air biasa, tetapi sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga sejak dini.
Dalam paparannya, Mulyono menyampaikan tantangan sederhana namun berdampak besar. Menurutnya, apabila setiap siswa menanam satu pohon di bantaran sungai, maka ribuan pohon baru akan tumbuh dan menjadi investasi lingkungan di masa depan.
“Bayangkan kalau satu anak saja mengajak keluarganya untuk tidak membuang sampah ke sungai dan menanam satu pohon di pinggir sungai. Dari SMPN 1 Bayongbong saja sudah ada sekitar 1.200 pohon yang bisa ditanam. Dampaknya tentu luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan tersebut sejalan dengan program nasional penanaman dua miliar pohon sebagai upaya memperkuat ketahanan lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
Kepala SMPN 1 Bayongbong, Herdi Mulyana RH, mengatakan pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Peserta didik juga harus memahami persoalan nyata yang ada di lingkungan sekitar agar tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap masyarakat dan alam.
“Pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial. Karena itu kami menghadirkan materi tentang kebencanaan, pengelolaan lingkungan, dan berbagai persoalan sosial agar anak-anak memiliki kepedulian sejak dini,” kata Herdi.
Ia berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Sekolah Sungai Cimanuk, dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan sekaligus memperkuat karakter peserta didik.
Dalam sesi refleksi, SSC menyampaikan pesan yang paling membekas kepada para peserta MPLS.
“Jika Sungai Cimanuk bisa berbicara, ia hanya ingin dirawat oleh manusia.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa sungai merupakan sumber kehidupan sekaligus penyangga ekosistem. Ketika sungai bersih dan terpelihara, masyarakat akan terhindar dari kekeringan saat musim kemarau maupun banjir ketika musim hujan.
Mulyono juga mengingatkan bahwa panjang Sungai Cimanuk tidak pernah berubah, tetapi kondisinya terus mengalami penyempitan dan pendangkalan akibat aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan.
Karena itu, keberadaan Sungai Cimanuk yang berada tepat di depan SMPN 1 Bayongbong dinilai menjadi laboratorium alam yang ideal untuk menumbuhkan kesadaran ekologis peserta didik sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari sekolah.
“Minimal mulai dari sekolah ini, Sungai Cimanuk bisa dijaga bersama. Jangan sampai sungai berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Sungai harus tetap menjadi bagian dari peradaban yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi ini, Sekolah Sungai Cimanuk berharap lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian nyata terhadap kelestarian lingkungan. Bagi SSC, menyelamatkan sungai bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama yang dimulai dari pendidikan sejak dini.