Mendeteksi lokasi...
Cari informasi...

Yayasan Bakti Barito Bangun Ruang Kelas dan Toilet dari Sampah Plastik di Garut

Rabu, 30 September 2026 79

Peresmian pembangunan ruang kelas serta toilet berbahan dasar sampah plastik yang diinisiasi Yayasan Bakti Barito di SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Rabu (30/9/2026).


GARUT, Garut Kota – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menyambut baik dan mengapresiasi peresmian pembangunan ruang kelas serta toilet berbahan dasar sampah plastik yang diinisiasi Yayasan Bakti Barito di SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Rabu (30/9/2026).

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengungkapkan rasa syukur atas kepedulian Yayasan Bakti Barito yang bekerja sama dengan Star Energy dalam membantu penyediaan infrastruktur pendidikan di Garut.

"Ya tentu Yayasan Bakti Barito tidak hanya di konteks satu ini aja, sudah 40 bangunan yang dibangun oleh Yayasan Bakti Barito yang bekerja sama dengan Star Energy," ucapnya.


Ia juga memastikan struktur bangunan kelas baru tersebut aman, kuat, dan kokoh karena menggunakan sistem penguncian menyerupai balok lego yang diperkuat dengan pipa di bagian tengahnya.

"Saya kira ideal kalau lihat produknya tadi ada 4 produk dia itu sangat baik sangat kuat, kemudian itu seperti lego jadi antara (blok) terkunci sehingga bangunan ini insha Allah kuat, kemudian di tengah-tengahnya ada semacam pipa untuk menguatkan konteks tadi," ujar Nurdin Yana.

Peresmian tersebut turut dihadiri Duta Besar (Dubes) Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng. Ia memuji langkah inovatif tersebut sebagai edukasi dini bagi anak-anak untuk memahami pentingnya daur ulang sejak di sekolah hingga diterapkan di lingkungan keluarga.


" I think we have make it achievable ya, tadi you saw the demonstration from the children, how to recycle. I think its important to start from that ( Menurut saya, kita sudah membuatnya bisa dicapai, ya. Tadi kamu lihat kan demonstrasi dari anak-anak tentang cara mendaur ulang. Menurut saya, penting untuk mulai dari situ. )," ucapnya.

Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu, menegaskan bahwa pembangunan fasilitas sekolah dari sampah plastik tidak akan berjalan optimal tanpa kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, persoalan sampah dan perubahan iklim memerlukan gerakan bersama yang melibatkan sektor swasta, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga pemerintah.

"Kita need to collaborate with all stakeholders. Dari CSR masing-masing perusahaan, dari sekolah, rumah tangga, dan juga pemerintah, supaya pilot project ini sukses," tuturnya.


Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berawal dari kebutuhan SDN 3 Sukanegla yang kekurangan ruang kelas akibat jumlah siswa yang terus bertambah. Rencana pembangunan sebelumnya juga sempat tertunda karena beberapa kali terdampak gempa bumi.

Dari kebutuhan tersebut, yayasan berkolaborasi dengan para mitra melalui program Green Guardians untuk pendidikan perubahan iklim. Salah satu wujudnya adalah menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang dapat disaksikan langsung oleh anak-anak, sehingga mereka memahami bahwa sampah memiliki nilai guna.

"Jadi anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya dia itu dari sampah. Jadi artinya bahwa sampah itu sesuatu yang bernilai. Dari pemikiran itulah kita bekerja sama dengan para mitra, membangun sekolah dari sampah yang bernilai rendah. Sampah yang selama ini ada di TPA dan atau bocor ke laut," katanya.

Proyek tersebut berhasil mengumpulkan total 18 ton sampah plastik bernilai rendah yang selama ini luput dari pengelolaan pemulung.

Sebelum memulai konstruksi, pihak yayasan memastikan aspek keamanan dan kekuatan bangunan telah diuji. Mereka menggandeng Universitas Garut serta laboratorium Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melaksanakan serangkaian uji laboratorium guna mendapatkan izin resmi pembangunan sekolah.


"Nah sebelum kita membangun tentunya kita melakukan uji-uji laboratorium, kita bekerja sama dengan Universitas Garut dan juga lab dari Dinas PUPR kita melakukan rangkaian pengujian untuk bisa mendapatkan izin membangun sekolah ini," tuturnya.

Selain ramah lingkungan dan kokoh, Dian menegaskan bahwa biaya produksi material tersebut diupayakan setara dengan bahan bangunan konvensional.

"Nah kita harapkan dengan ongkos produksi yang setara dengan konvensional dengan yang sekarang sudah ada, kita berharap bahwa ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas," lanjutnya.

Kepala Sekolah SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus, menyampaikan terima kasih atas bantuan dua ruang kelas baru dan dua toilet tersebut. Sebelumnya, pihak sekolah sempat memberlakukan sistem kelas pagi dan siang akibat keterbatasan ruang dan jumlah siswa yang mencapai 196 orang.

"Dan akhirnya ketika kami mengikuti arahan dari Yayasan Bakti Barito (terkait) menjadi Sekolah Adiwiyata, Alhamdulillah kami terbantu dengan dua kelas baru dan juga dua toilet," ucapnya.

Fitri Firdaus menjelaskan, keterlibatan sekolah bermula dari keikutsertaan dalam program pendampingan Sekolah Adiwiyata oleh Yayasan Bakti Barito. Melalui pembinaan terkait pengolahan sampah dan setelah melihat prestasi sekolah yang dinilai baik, pihak yayasan menawarkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan ruang kelas baru.

*Ya mudah-mudahan dengan didapatkannya ruang kelas ini menjadikan anak-anak lebih giat lagi belajar, dan juga dalam hal lingkungannya anak-anak lebih concern bahwa kita dalam mendapatkan sesuatu kita sungguh-sungguh  dengan berbuat baik insha Allah ada dampak yang baik juga buat kita," tandasnya.


Foto: Muhamad Azi Zulhakim/Diskominfo Kabupaten Garut



footer background
FacebookTwitterInstagramYouTube
assets-logo

Dikelola oleh :
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Garut
Jl. Pembangunan No. 181, Garut, 44151 Provinsi Jawa Barat

+62 262 4895000 [email protected]
Statistik Pengunjung
Online
5
Hari Ini
0
Bulan Ini
0
Total
41364
© 2026 Pemerintah Kabupaten Garut. All Rights Reserved.