Mendeteksi lokasi...
Cari informasi...

42 Hektare Sawah Jadi Puso di Garut, BBWS Cimanuk-Cisanggarung Temukan Penyebabnya, Nol Infrastruktur Pengairan

Sabtu, 10 Oktober 2026 362

Tim dari BBWS Cimanuk-Cisanggarung yang dipimpin Syahid Abdulgani turun langsung meninjau lokasi kekeringan parah di perbatasan Bayongbong - Sukaresmi - Pasirwangi, Garut, Jum'at (9/10/2026). (Foto: Hendra YG)

Sebanyak kurang lebih 42 hektare lahan sawah di perbatasan tiga kecamatan di Kabupaten Garut, yakni Bayongbong, Sukaresmi, dan Pasirwangi, mengalami gagal panen atau puso akibat kekeringan parah.

Kondisi memprihatinkan itu langsung ditinjau tim survei dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung yang dipimpin perwakilannya, Syahid Abdulgani.

Dalam peninjauan di lokasi, Gani sapaan akrabnya, mengungkap fakta krusial di balik bencana kekeringan yang merugikan petani tersebut.

Menurutnya, faktor paling krusial penyebab 42 hektare sawah puso adalah tidak adanya sama sekali infrastruktur pengairan yang memadai di lokasi tersebut.

“Ini menjadi temuan utama kami di lapangan. Petani di tiga kecamatan ini bertani tanpa ditopang infrastruktur irigasi yang layak. Ketika kemarau datang, dampaknya langsung puso,” ujar Syahid Abdulgani di lokasi peninjauan, Jum’at (9/10/2026).

Ia berjanji akan segera membuat laporan resmi terkait kondisi kekeringan di perbatasan Bayongbong, Sukaresmi, dan Pasirwangi tersebut kepada pimpinan.

Laporan itu diharapkan menjadi dasar untuk pembenahan infrastruktur pengairan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami akan segera buatkan laporannya. Harapannya, apa yang terjadi di tahun 2026 ini tidak terulang lagi di tahun depan. Antisipasinya harus dengan dibenahi infrastrukturnya,” tegas Gani.

Keprihatinan mendalam juga disampaikan Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khaddafi. Ia menilai kerugian yang dialami petani sangat besar dan berdampak langsung pada merosotnya ketahanan pangan masyarakat di tiga kecamatan tersebut.

Mulyono menyebut, kekeringan yang terjadi kali ini tergolong bencana kekeringan ekstrem. Padahal, kerugian akibat kekeringan sejatinya bisa diminimalisir jika mitigasi dilakukan jauh-jauh hari.

“Ini bencana kekeringan ekstrem. Kerugiannya sangat besar bagi masyarakat. Yang sangat disayangkan, tidak pernah ada mitigasi bencana kekeringan sama sekali di wilayah ini, selain yang selama ini dilakukan oleh teman-teman Sekolah Sungai Cimanuk,” ungkap Mulyono.

Ia berharap pemerintah, terutama pihak BBWS Cimanuk-Cisanggarung dan pemerintah daerah, bisa segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini demi menyelamatkan petani Garut.


Penulis: Hendra YG

sumber : sekolahsungaicimanuk.com


footer background
FacebookTwitterInstagramYouTube
assets-logo

Dikelola oleh :
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Garut
Jl. Pembangunan No. 181, Garut, 44151 Provinsi Jawa Barat

+62 262 4895000 [email protected]
Statistik Pengunjung
Online
2
Hari Ini
21
Bulan Ini
4663
Total
45021
© 2026 Pemerintah Kabupaten Garut. All Rights Reserved.